Minggu, 10 Januari 2016

Makalah Pemikiran dan Penalaran

KATA  PENGANTAR


Dengan mengucapkan puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa Kami telah menyelesaikan makalah ini. Seiring dengan tujuan kuliah yang ditugaskan kepada mahasiswa,demi meningkatkan mutu pendidikan.
Makalah ini berisi tentang Pemikiran, Logika dan Penalaran. Uraian materi yang ditulis bertujuan untuk mencari pengertian dari Pemikiran, Logika dan Penalaran menurut berbagai sumber. Materi disajikan dalam bahasa sederhana sehingga mudah dipahami pembaca.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat  bagi para pembaca dalam belajar dan hasilnya dapat diterapkan dalam belajar sehari-hari.Kritik dan saran dari pembaca kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.


                                                                                    Banjar,     Maret 2015

                                                                                    Penyusun





DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................... 1
1.3 Tujuan dan Manfaat................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Penalaran.................................................................................................... 2
     2.1.1 Pengertian Penalaran dari Berbagai Sumber...................................... 2
     2.1.2 Metode Panalaran.............................................................................. 3
     2.1.3 Penalaran Induktif dan Deduktif....................................................... 3
     2.1.4 Kesalahan Penalaran.......................................................................... 4
     2.1.5 Konsep dan Simbol Penalaran........................................................... 5
     2.1.6 Ciri-ciri Penalaran............................................................................... 5
2.2 Logika........................................................................................................ 6
     2.2.1 Pengertian Logika.............................................................................. 6
2.3 Pemikiran................................................................................................... 7
     2.3.1 Pengertian Pemikiran......................................................................... 7
     2.3.2 Macam-macam Pemikiran.................................................................. 7
     2.3.3 Asas-asas Pemikiran........................................................................... 8
     2.3.4 Hukum-hukum Pemikiran.................................................................. 8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................ 9
3.2 Saran.......................................................................................................... 9


DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 10



BAB I
PENDAHULUAN

I.1.  LATAR BELAKANG
Membahasa tentang ilmu logika, pasti di dalamnya akan ditemukan yang namanya pemikiran, pernyataan atau penalaran. Dengan kata lain dalam ilmu logika akan dijumpai masalah tentang hal tersebut. Pada dasarnya yang namanya pemikiran yang merupakan kegiatan atau langkah kedua dalam pembahasan ilmu logika. Pembahasan tentang masalah pemikiran ini biasanya disebut dengan yang dengan yang maksudnya adalah hal – hal yang dipercaya atau yang diyakini kebenarannya itulah pemikiran yang menjadi awal sekaligus akhir atau tujuan dari setiap pemikiran.
Dalam mengurangi seluk – beluk pemikiran ini yang menjadi bahasan, namun masih banyak bahasan – bahasan yang lain di dalam belajar ilmu logika namun pada kali ini difokuskan untuk membahas atau mengurangi hal pemikiran.

I.2.  RUMUSAN MASALAH
  1. Apakah definisi Penalaran ?
  2. Apakah definisi Logika ?
  3. Apakah yang dimaksud dengan pemikiran?
  4. Ada berapa macam – macam pemikiran?
  5. Apa sajakah pemikiran?
  6. Bagaimana hukum – hukum pemikiran?

I.3.  TUJUAN DAN MANFAAT
  1. Untuk mengetahui definisi Penalaran.
  2. Untuk mengetahui definisi Logika
  3. Untuk mengetahui Apakah pemikiran itu
  4. Untuk mengetahui macam – macam pemikiran ditinjau dari beberapa segi
  5. Untuk mengetahui asas – asas pemikiran
  6. Untuk mengetahui hukum – hukum pemikiran

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENALARAN
2.1.1 Pengertian Penalaran dari Berbagai Sumber:
 A. Berdasarkan e-learning gunadarma
Penalaran adalah bentuk tertinggi dari pemikiran. Secara sederhana penalaran dapat diartikan sebagai proses pengambilan kesimpulan berdasarkan proposisi-proposisi yang mendahuluinya.
B.     Berdasarkan Wikipedia
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
C.    Berdasarkan Kamus Besar Indonesia
a.       Cara (perihal) menggunakan nalar; pemikiran atau cara berpikir logis; jangkauan pemikiran. Contoh : kepercayaan takhayul serta – yang tidak logis haruslah dikikis habis
b.      Hal yang mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman
c.       Proses mental dengan mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip
D. Pengertian Penalaran Menurut Para Ahli:
1.  Bakry (1986:1) menyatakan bahwa Penalaran atau Reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.
2.  Suriasumantri (2001:42) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.
3.    Keraf (1985:5) berpendapat bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu kesimpulan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubungkan fakta-fakta atau data yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa pengetahuan. Dengan kata lain, penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai suatu kesimpulan yang logis.
2.1.2 METODE PENALARAN
Terdapat dua jenis metode penalaran yaitu penalaran deduktif dan induktif :
A.Metode Induktif
Metode berpikir induktif adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasi pengamatan empiric dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini panalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif.
Contoh:Ani bersekolah dengan memakai seragam merah puti karena masih SD,Anton Bersekolah dengan memaki seragam merah putih karena dia masih SD.
KESIMPULAN:Semua siswa yang masih SD memaki seragam merah putih saat bersekolah

B.Metode Deduktif
Metode berpikir deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.

2.1.3 PENALARAN INDUKTIF DAN INDUKTIF
Penalaran induktif adalah penalaran yang mengambil contoh-contoh khusus yang khas untuk kemudian diambil kesimpulan yang lebih umum. penalaran ini memudahkan untuk memetakan suatu masalah sehingga dapat dipakai dalam masalah lain yang serupa. catatan bagaimana penalaran induktif ini bekerja adalah, meski premis-premis yang diangkat benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, kesimpulannya belum tentu benar. tapi kesimpulan tersebut mempunyai peluang untuk benar.

contoh penalaran induktif adalah :
kerbau punya mata. anjing punya mata. kucing punya mata : setiap hewan punya mata
           penalaran induktif membutuhkan banyak sampel untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang diangkat. untuk itu penalaran induktif erat dengan pengumpulan data dan statistic.
penalaran induktif ini mengangkat 1 kasus untuk ditarik dalam kesimpulan umumnya. contohnya kurang banyak. dan meski penalaran induktif sudah kuat dengan contoh yang banyak, kesimpulan induktif yang dihasilkan pun masih bisa dipertanyakan keabsahannya. sementara lebih jauh, penulis blog ingin tahu apakah kesimpulan tersebut berlaku jika diaplikasikan kepada pihak lain, dalam hal ini kepada ulil.
          berbeda dengan penalaran Deduktif, penalaran deduktif adalah menarik kesimpulan khusus dari premis yang lebih umum. jika premis benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, maka dapat dipastikan hasil kesimpulannya benar. jika penalaran induktif erat kaitannya dengan statistika, maka penalaran deduktif erat dengan matematika khususnya matematika logika dan teori himpunan dan bilangan. contoh penalaran deduktif adalah :
Contoh
- semua hewan punya mata
- anjing termasuk hewan
:. anjing punya mata

 2.1.4 KESALAHANPENALARAN
        Salah nalar dapat  terjadi di dalam proses berpikir utk mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena ada kesalahan pada cara penarikan kesimpulan. Salah nalar lebih dari kesalahan karena gagasan, struktur kalimat, dan karena dorongan emosi.
Salah nalar ada dua macam:
1.      Salah nalar induktif, berupa (1) kesalahan karena generalisasi yang terlalu luas, (2) kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat, (3) kesalahan analogi.
2. Kesalahan deduktif dapat disebabkan karena: (1) kesalahan karena premis mayor tidak dibatasi; (2) kesalahan karena adanya term keempat; (3) kesalahan karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi; dan (4) kesalahan karena adanya 2 premis negatif.

2.1.5 KONSEP DAN SIMBOL DALAM PENALARAN

Penalaran juga merupakan aktifitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
            Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.

2.1.6 CIRI- CIRI PENALARAN :

1. dilakukan dengan sadar
2. didasarkan atas sesuatu yang sudah diketahui
3. Sistematis
4. terarah, bertujuan
5. menghasilkan kesimpulan berupa pengetahuan, keputusan atau sikap yang baru
6. sadar tujuan
7. premis berupa pengalaman atau pengetahuan, bahkan teori yang telah diperoleh
8. pola pemikiran tertentu
9. sifat empiris rasional

2.2 LOGIKA
2.2.1 Pengertian Logika

Terdapat beberapa batasan pengertian tentang logika dari beberapa ahli. Menurut Alex Lanur,

Logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat). Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan tentang pokok yang tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan seperti ini terjadi dengan menunjukkan sebab musabanya.

  Batasan pengertian yang diberikan oleh Alex Lanur, secara singkat diungkapkan oleh Muhammad Zainuddin, bahwa Logika merupakan suatu  Ilmu tentang dasar dan metode untuk berfikir secara benar. Menurut Mundiri Logika didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah. Sedangkan Poespoprojo  menuliskannya sebagai ilmu dan kecakapan menalar, berfikir dengan tepat (the science and art of correct thinking).
Ketiga pendapat mengenai batasan logika itu pada hakekatnya saling melengkapi. Menurut Muhammad Zainuddin, bahwa Logika merupakan suatu Ilmu tentang dasar dan metode untuk berfikir secara benar. Penekanan batasan logika pada berfikir secara benar. Berfikir secara “benar” selanjutnya dijelaskan oleh Mundiri bahwa Logika sebagai ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah. Kriteria benar, penalaran yang betul atau salah, pada dasarnya merupakan suatu penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berfikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berfikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. Logika bersifat a priori. Kebenaran logika tidak dapat ditemukan dan diuji secara empiris tetapi kebenaran diuji secara akal. Obyek logika menurut Muhammad Zainudin, terdiri dari :
1.      Obyek materiil : penalaran/cara berfikir
2.      Obyek formal : hukum,prinsip,asas
3.      Produk : produk berfikir (konsep, proposisi yang diekspresikan dalam bentuk ungkapan lisan/tulisan/isyarat)

2.3 PEMIKIRAN
2.3.1 Pengertian Pemikiran

Pemikiran dalam bahasa inggris disebut Inference yang berarti penyimpulan yang berarti mengeluarkan suatu hasil berupa kesimpulan ada juga yang menyebut penuturan dan penalaran. Apa yang dimaksud pembicaraan dalam bagian ini adalah : kegiatan akal manusia, mencermati suatu pengetahuan yang telah ada, untuk mendapatkan / mengeluarkan pengetahuan yang baru (lain).

2.3.2 MACAM-MACAM PEMIKIRAN

Ada dua macam pemikiran yang kita temukan adalah :
a.         Pemikiran langsung, adalah pemikiran yang hanya mempergunakan satu pangkal pikir atau langsung disimpulkan. Asas pemikiran ini pada ilmu logika yang banyak dibicarakan pada konversi, inversi dan kontraposisi dalam keputusan.
b.         Pemikiran tidak langsung, adalah pemikiran yang mempergunakan lebih dari satu pangkal pikir, jadi berarti pemikiran yang mempergunakan banyak keputusan atau minimal lebih dari satu keputusan untuk menetapkan kesimpulan. Misalnya pemikiran yang terjadi melalui jalan induksi, deduksi dan syllogisme.

2.3.3 ASAS-ASAS PEMIKIRAN
Ada empat asas – asa pemikiran tersebut adalah :
1.   Asas persamaan
Menurut asas ini, lebih dahulu harus diakui oleh semua orang bahwa setiap sesuatu hanya mengandung arti kesamaan pada dirinya sendiri.
2.   Asas Pertentangan
Menurut asas ini, tidak dapat disamakan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain yang menentangnya.
3.   Asas menolak kemungkinan
Menurut asas ini, maka jika terdapat dua pendapat yang bertentangan, seperti contoh pada asas yang kedua, maka disamping keduanya tidak mungkin semua benar juga tidak mungkin keduanya salah, maka tidak mungkin pula pada pendapat yang ketiga. Kebenarannya hanya terdapat pada salah satu dari kedua pendapat tersebut.

4.   Asas Mencukupkan
Menurut asas ini, tiap – tiap keputusan merupakan sebab bagi keputusan baru (akibat) atau merupakan akibat dari keputusan yang lalu. Kepastian benar dari akibat, sangat tergantung kepada benarnya sebab. Kalau keputusan yang menjadi sebab itu salah, maka pastilah keputusan yang menjadi akibatnya itu salah.

2.3.4 HUKUM-HUKUM PEMIKIRAN
Sehubungan dengan benar dan lurusnya suatu pemikiran, maka baiklah kita kemukakan hukum – hukum pemikiran yang berlaku untuk semua pemikiran.
Ada dua hukum – hukum pemikiran dapat dikatakan bahwa :
1.      Jika primis – primis benar, tetapi kesimpulan salah, maka jalan pikirannya (bentunya) tidak lurus.
2.      Jika jalan pikirannya (bentuknya) memang lurus, tetapi kesimpulannya tidak benar, maka primis – primisnya (materinya) salah, dari salahnya kesimpulan dapat dibuktikan salahnya primis – primis.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Pemikiran adalah sutu dari kesimpulan yang benar merupakan awal dari tindakan akal berfikir, logika dan penalaran sehingga mencapai keputusan dan menuju kepada penyimpulan atau pemikiran.
Pemikiran harus dipakai untuk mendapatkan keputusan yang benar. Dalam pemikiran harus menggunakan keputusan untuk mendapatkan kesimpulan.
3.2 SARAN
Dari beberapa referensi saya dapat menemukan beberapa data mengenai hal yang membahas dalam makalah ini sehingga tersusunlah makalah ini. Namun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari ini pemasukan dan pembaca sangat saya butuhkan demi sempurnanya makalah saya selanjutnya.























DAFTAR PUSTAKA


Muhammad Zainuddin, Hand out mata kuliah Logika dan Metoda Sains  2006.
Mundiri,  Logika,  Rajawali Press bekerjasama dengan Badan Penerbitan IAIN Walisongo Press, Cetakan keempat, 2000.
W. Poespoprojo, Logika Ilmu Menalar,  Pustaka Grafika, 1999.





















1 komentar:

  1. Spade the Titha, an ultra-modern and innovative - TITanium Arts
    Titha titanium price per ounce is a titanium watch band cutting-edge diamond-in-the-round diamond-in-the-round diamond-in-the-round titanium max diamond-in-the-round titanium boiling point diamond-in-the-round diamond-in-the-round diamond-in-the-round diamond-in-the-round 2020 ford ecosport titanium diamond-in-the-round

    BalasHapus